MEMBUMIKAN BUDAYA MUTU DI CT ARSA

MEMBUMIKAN BUDAYA MUTU DI CT ARSA – Our culture is our brand

Oleh : Drs. H Usdiyanto, M.Hum

  1. Pendahuluan

SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo didirikan tahun 2018 dengan misi memutus mata rantai kemiskinan melalui Pendidikan yang berkualitas. Dua hal yang tersurat dari kalimat tersebut adalah (1) nama yang ditetapkan oleh CT ARSA Foundation, SMA kita berpredikat unggulan; (2) misinya dicapai melalui pendidikan berkualitas. Konsekuensi dari nama dan misi tersebut, kita sudah bersepakat sejak awal bahwa budaya di CT ARSA Foundation adalah budaya kualitas, budaya mutu, budaya unggul.

Nama SMA Unggulan memiliki dua dimensi. Pertama dimensi motivatif. Artinya, identitas unggulan itu bertujuan mendorong dan menyadarkan warga sekolah (kepala sekolah, guru, staf, karyawan, siswa, orang tua, dan stake holders) agar semua memiliki mindset unggul. Bermula dari kesadaran itu, kata unggul dan kualitas kemudian bermuara dalam pikiran, sikap, perilaku, dan budaya warga sekolah, memikul nama unggul memiliki konsekuensi individual maupun kolektif untuk mewujudkannya secara bersama-sama.

Dimensi kedua nama SMA Unggulan adalah citra, image, branding. Membangun sebuah sekolah baru adalah membangun dua komponen, yakni membangun isntitusi (institution building) dan membangun citra (image building) secara simultan. Artinya, institusi yang unggul akan mewujudkan citra unggul. Sebaliknya, citra unggul hanya bisa tercipta oleh kondisi objektif institusi tersebut yang memang berkualitas unggul.

Pendidikan berkualitas merupakan jalan untuk mewujudkan keunggulan sekolah. Sekolah-sekolah yang memiliki kualitas unggul dipengaruhi kinerja individu dan organisasi yang disebut sebagai aspek manusia dan organisasi (the human side of organization); terdiri atas 4 aspek yakni, (1) nilai-nilai (values), (2) keyakinan (belief), budaya (culture), dan norma perilaku (norm of behavior).

  1. Budaya Mutu

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frymier dan kawan-kawan (1984) terhadap seratus sekolah bernutu (One Hundred Good Schools), disimpulkan bahwa iklim sekolah (school atmosphere), berkorelasi secara positif dan signifikan dengan kualitas kepribadian dan prestasi akademik lulusannya. Iklim sekolah meliputi (1) hubungan interpersonal, (2) lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan,dan (3) moral dan spirit sekolah. Inilah yang kita kenal dengan istilah budaya mutu sekolah, yakni keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah secara produktif yang mampu memeberikan pengalaman dan bertumbuhkembangnya sekolah untuk mencapai keberhasilan pendidikan berdasarkan spirit dan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah.

Kemendiknas (2000) merumuskan 8 elemen budaya mutu sekolah sebagai berikut: (1) informasi kualitas untuk perbaikan, bukan untuk mengontrol, (2) kewenangan harus sebatas tanggung jawab, (3) hasil diikuti rewards dan punishment, (4) kolaborasi, sinergi, bukan persaingan sebagai dasar kerjasama, (5) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya, (6) tercipta atmosfir keadilan, (7) imbal jasa sepadan dengan nilai pekerjaan, dan (8) warga sekolah merasa memiliki sekolah.

Nilai-nilai budaya yang secara konsisten dilaksanakan di sekolah yang baik, yaitu mutu dan pelayanan merupakan hal yang harus diutamakan, selalu berupaya menjadi yang terbaik, memberikan perhatian penuh pada hal-hal yang nampak kecil, tidak membuat jarak dengan klien, melakukan sesuatu sebaik mungkin, bekerja melalui orang (bukan sekedar bekerjasama atau memerintahnya), memacu inovasi, dan toleransi terhadap usaha yang berhasil.

Jadi, budaya mutu sekolah merupakan sistem nilai sebuah sekolah yang menghasilkan lingkungan yang kondusif dalam pembentukan perbaikan yang berkelanjutan dalam segi mutu. Budaya Mutu terdiri dari nilai-nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang mengedepankan mutu. Sebagai sekolah yang ingin menerapkan manajemen Total Quality, penting sekali bagi SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo untuk membumikan budaya mutu sedini mungkin.

  1. Upaya Membumikan Budaya Mutu

Perubahan budaya merupakan salah satu tantangan yang paling sulit bagi banyak organisasi, termasuk bagi sekolah. Budaya organisasi akan sulit untuk diubah tanpa kepemimpinan (leadership) yang kuat yang berorientasi pada perubahan. Dengan kata lain perubahan harus dimulai dari pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah. Mengapa? Kita sadari bahwa hampir di setiap komunitas, budaya paternalistic masih sangat dominan

Ki Hajar Dewantoro mengajarkan “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani”. Ajaran Bapak Pendidikan Nasional ini menegaskan betapa penting figur kepala sekolah di dalam upaya membumikan budaya mutu di sekolah. Kepala sekolah memainkan peran sentral dalam membangun budaya mutu sekolah. Guru, staf, karyawan, dan siswa memunyai kecenderungan meniru perilaku kepala sekolah sebagai “role model“. Kepala sekolah yang punya kepedulian pada mutu, akan ditiru oleh warga sekolah. Sebaliknya kepala sekolah yang abai dalam menjaga mutu sekolah akan ditiru pula oleh warga sekolah.

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana upaya yang baik untuk membumikan budaya mutu sekolah? Setidaknya ada tiga tahap penting yang harus dilakukan sekolah dalam upaya membumikan budaya mutu. Tahap pertama adalah inisiasi, yakni tahap penanaman paradigma dan prinsip mutu atau prinsip kualitas pada semua warga sekolah. Setiap kegiatan atau usaha manusia membutuhkan landasan yang fundamental berupa paradigm dan prinsip. Paradigma adalah cara pandang manusia dalam melihat sesuatu. Paradigma menduduki posisi yang tinggi dalam pelaksanaan segala kegiatan. Paradigma mampu mengendalikan pikiran, ucapan dan tindakan manusia. Dari paradigma tersebut menghasilkan prinsip, yaitu kaidah, nilai, atau norma yang menjadi pegangan. Prinsip ibarat kompas yang selalu menunjukkan arah yang jelas. Paradigma dan prinsip penjaminan mutu akan membimbing pelaksanaan kegiatan agar tetap pada jalur yang benar sesuai dengan tujuan.

Di sini kepala sekolah mengenalkan dan memahamkan semua warga sekolah atas paradigma mutu sekolah dan prinsip mutu sekolah, yang dikenal dengan istilah tahap inisiasi paradigma dan prinsip mutu sekolah. Landasan berpikirnya, warga sekolah merupakan masyarakat intelektual, masyarakat terdidik (educated people). Jika mereka memahanami konsep teori, pengertian, definisi, dan esensinya secara intelektual, mereka akan bisa menerimanya dengan baik, yang pada gilirannya menghasilkan pemahaman dan kesadaran.  Dalam benak mereka tertanam “O, begitu…”. Muara tahap ini adalah munculnya tekad bersama untuk selalu memberikan karya terbaik, secara individu dan kolektif.

Tahap kedua adalah implementasi. Pada tahap ini, kepala sekolah perlu membentuk kelompok kerja yang baik. Kemudian mengajak duduk bersama semua warga sekolah dan stake holders, untuk merumuskan ukuran mutu dan kualitas yang ingin dicapai. Dengan demikian, muncul sebuah keasadaran bahwa kualitas itu adalah milik bersama, tertanam (sense of belonging), setiap individu merasa memilki. Kondisi ini akan mempermudah kepala sekolah dalam upaya konkret berikutnya, karena warga sekolah tidak merasa dipaksa dan diindoktrinasi. Sebaliknya mereka akan dengan suka rela dan penuh kesadaran untuk selalu berprestasi dengan rumusan-rumusan yang mereka buat bersama.

Dalam tahap ini gerakan yang dilakukan adalah mewujudkan dalam perilaku dan prestasi konkret secara berkesinambungan. Tahap inilah yang paling berat dalam upaya mebumikan budaya mutu. Ibarat tanaman, setelah mereka tumbuh, maka akan timbul gulma, hama, dan penyakit. Mereka juga memerlukan pupuk. Oleh karenanya, kepala sekolah harus menyiangi gulma, memberantas hama dan penyakit, menyirami, dan memupuk “tanaman” ini.

Dalam langkah ini peran pokja akan sangat diperlukan kepala sekolah. Tim inilah yang menerjemahkan konsep dan gagasan pimpinan, agar dapat terwujud dalam prestasi yang nyata. Tim ini pula yang mendinamisasi warga sekolah dan menjadi jangkar pada dalam meimplementasikan ukuran mutu yang telah disepakati bersama

Tahap ketiga adalah peningkatan berkelanjutan (continuous improvement). Harus disadari oleh warga sekolah, bahwa ukuran kualitas itu dinamis, tidak berhenti. Kualitas akan bergerak menyesuaikan dengan tuntutan perubahan dan adaptatif. Apa yang dirumuskan baik hari ini, akan berubah pada hari esok. Oleh karena itu, kepala sekolah harus menjadi inspirator bagi seluruh warga sekolah untuk maju berkelanjutan. Reward and punishment perlu diterapkan untuk menginspirasi agar mereka selalu berupaya memberikan karya terbaik bagi sekolah.

  1. Penutup

Budaya mutu menjadi penting bagi sekolah yang ingin memiliki keunggulan. Budaya mutu hanya bisa terwujud jika menjadi tradisi akademik, pola hidup, dan way of life seluruh warga sekolah,baik  secara individu maupun kolektif. Semua warga sekolah bergerak maju dalam barisan untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan CT ARSA Foundation, memutus mata rantai kemiskinan melalui Pendidikan yang berkualitas.

CT ARSA BISA…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *