REALISASI DARI SEBUAH INOVASI YANG MEMBAWA REZEKI

Oleh : Hanifah Husna Abidah

Pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan di segala bidang kehidupan dibatasi. Terutama kegiatan yang menyebabkan adanya kerumunan, manusia dipaksa untuk membuat inovasi agar kegiatan-kegiatan tersebut tetap dapat berjalan di tengah pandemi. Salah satunya di bidang ekonomi yang dilakukan banyak orang, melibatkan interaksi antara penjual dan pembeli. Namun, saat kondisi seperti sekarang, pemerintah meminta kepada masyarakat untuk meminimalisasi adanya interaksi secara langsung dengan banyak orang. Hal ini membuat seluruh pemilik usaha memutar otak, mencari cara agar tetap ada pemasukan dari usaha yang dijalankan.

Kualitas Menjadi yang Teratas

Menjalankan usaha bagi masyrakat, tentu banyak manfaat yang dirasakan. Manfaat yang bisa dirasakan antara lain melatih jiwa kepemimpinan, memperoleh wawasan, memiliki relasi yang semakin luas, bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Semua orang dapat berwirausaha, kuncinya adalah berani mencoba. Namun, untuk sukses dalam menjalankan usaha tidak hanya bermodal berani mencoba, banyak hal lain yang harus dilakukan. Salah satunya dengan menjaga kualitas kualitas dari produk yang ditawarkan. Menurut Schiffman dan Kanuk (2007), kualitas produk adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memberikan identitas atau ciri pada setiap produknya sehingga konsumen dapat mengenali produk tersebut. Lalu menurut Kotler dan Amstrong (2008), kualitas produk merupakan senjata strategi potensial untuk mengalahkan pesaing. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kualitas produk memang harus sangat diperhatikan oleh pemilik usaha karena hal ini sangat menunjang sebuah kesuksesan dalam berwirausaha.

Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Pemilik usaha warung makan Bu Tutik TW yang berlokasi di Ngeboran 01/06, Sekaran, Wonosari, Klaten sangat menjaga kualitas makanan yang disajikannya. Meskipun masih termasuk usaha kecil, Bu Tutik berusaha sebisa mungkin untuk memuaskan konsumen dan memberikan kualitas produk yang terbaik. Menggunakan ayam segar untuk bahan baku pembuatan ayam goreng tulang lunak, menggunakan minyak yang sehat dalam proses penggorengan, hingga meminimalisasi penggunaan micin dalam produk makanan yang Bu Tutik tawarkan. Semua yang dilakukan tersebut merupakan usaha Bu Tutik untuk menjaga kualitas dari produk usahanya. Namun, pada awal pandemi pemerintah melarang pembeli makan di tempat dan juga memberlakukan kebijakan stay at home. Hal itu membuat aktivitas masyarakat di luar rumah berkurang, demi menekan angka penyebaran Covid-19. Sepinya populasi manusia yang beraktivitas di luar rumah  membuat jumlah pembeli di warung makan Bu Tutik TW berkurang.

Kata-kata kutipan tersebut membuat Bu Tutik selaku pemilik usaha tak tinggal diam, dia lalu berinovasi terhadap produk yang dijualnya, ayam goreng tulang lunak dimodifikasi oleh menjadi ayam tulang lunak frozen, gethuk goreng pun dia sulap menjadi gethuk frozen. Bagaimana kira-kira  ayam yang biasa disajikan dengan nasi hangat dan sambal yang mengguggah selera serta gethuk goreng yang bisa disandingkan dengan teh hangat, kini disajikan dalam kemasan frozen food? Apakah dengan modifikasi yang dilakukan Bu Tutik tetap dapat menjaga kualitas produknya? Inovasi tersebut dilakukan dengan tujuan membuat makanan yang lebih awet dan mudah diolah, sekali pembeli keluar dapat membeli produk tersebut dalam jumlah yang banyak untuk kemudian disimpan di rumah dan dapat memenuhi ketersediaan kebutuhan pangan selama stay at home.

Inovasi dan Respon Positifnya

Kehadiran menu baru ini mendapat respons yang baik dari masyarakat. Karena antusias tinggi yang diterima, tak cukup dengan hanya menjual ayam tulang lunak frozen pemilik usaha menambah menu frozen food lain yaitu molen, timus, dan gethuk frozen. Dalam proses pembuatannya Bu Tutik, pemilik usaha warung makan belajar dari pengalaman teman yang sudah berhasil membuat usaha frozen food. “Kalau cara buatnya saya belajar dari pengalaman teman,” katanya pada wawancara yang saya lakukan malam itu. Proses pembuatan frozen food ternyata tak jauh berbeda dengan membuat makanan siap saji biasanya, langkah-langkahnya sama setelah produknya setengah jadi lalu dikemas dengan plastik vacuum nylon kemudian dimasukkan ke dalam Chest Freezer yang merupakan alat pendingin untuk menyimpan makanan beku. Selain prosesnya yang sama, bahan baku yang digunakan juga sama. Tapi khusus molen frozen memang dikhususkan untuk produksi di Tawangmangu menggunakan jenis pisang bawen.

Berubah dengan Kualitas yang Sama

Menurut salah satu pelanggan cita rasa serta kualitas yang disajikan tetap sama walau dimodifikasi menjadi frozen food “Rasanya enak, tidak ada yang berubah,” kata Salma, salah satu pelanggan yang sempat saya wawancara saat itu. Selain kualitas dan cita rasanya yang tetap terjaga, harga dari makanan yang ditawarkan juga tetap sama. Semua makanan frozen food dibandrol dengan harga Rp5000,00 hingga Rp22000,00. Menurut Bu Tutik tidak ada perbedaan harga yang signifikan antara ayam goreng tulang lunak dengan ayam tulang lunak frozen “Harga ndak beda jauh karena bahan baku yang digunakan sama yang membedakan kalau ayam goreng keluar biaya untuk alat penggorengan, kalau frozen food ya biayanya beralih untuk listrik,” kata Bu Tutik, pemilik usaha warung makan tersebut. Adapun keuntungan dengan menjual menu frozen food ini yaitu jangkauan pasarnya menjadi lebih luas. Kegiatan distribusi dilakukan hingga ke luar daerah, seperti Boyolali, Yogyakarta, dan wilayah-wilayah lainnya. Karena yang  awalnya hanya untuk konsumsi pribadi setelah menjadi frozen food dapat dijadikan oleh-oleh. Tertarik untuk mencobanya atau ingin membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.